Nasehat Bagi Penuntut Ilmu (bag. 10)
Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari Kiamat.
Kiat Kesepuluh : Mengikat Ilmu Atau Pelajaran Dengan Tulisan.
Ketika belajar, seorang penuntut ilmu harus mencatat pelajaran, poin-poin penting, fawaa-id (faedah dan manfaat) dari ayat, hadits dan perkataan para Shahabat dan ulama, atau berbagai dalil bagi suatu permasalahan yang dibawakan oleh syaikh atau gurunya.
Tujuannya agar ilmu yang disampaikannya tidak hilang dan terus tertancap di ingatannya setiap kali ia mengulangi pelajarannya. Karena daya tangkap atau kemampuan menghafal dan memahami pelajaran berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Selain itu, dengan mencatat pelajaran ia dapat memahami dan menghafalkannya.
Adanya catatan atau alat tulis serta buku tulis merupakan bekal seorang penuntut ilmu untuk memperoleh ilmu sebagaimana hal itu telah diisyaratkan oleh imam asy-Syafi’i rahimahullaah.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ.
“Ikatlah ilmu dengan tulisan.” [1]
Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu (wafat th. 92 H) pernah berkata kepada anaknya,
يابني، قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ.
“Wahai anakku, ikatlah ilmu dengan tulisan.” [2]
Khalid bin Khidasy al Baghdadi rahimahullaah (wafat tahun 223 H) berkata, “Aku hendak berpisah dengan Malik bin Anas rahimahullaah, lalu kukatakan, ‘wahai Abu ‘Abdillah, berikan wasiat kepadaku.” Beliau menjawab, “Hendaklah engkau bertaqwa kepada Allah dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan, menasihati setiap Muslim, dan mencatat ilmu dari Ahlinya.” [3]
Seorang penuntut ilmu tidak boleh bakhil atau pelit untuk membeli buku tulis, ballpoint, kitab, dan berbagai sarana yang dapat membantunya untuk mendapatkan ilmu. Dalam memenuhi kebutuhannya itu dia tidak boleh bergantung kepada orang lain, tidak boleh meminta-minta, dan tidak boleh merepotkan orang lain, bahkan ia harus bersikap zuhud dan qana’ah.
*****
Keterangan :
- Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih, I/306, no. 395, dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu. Hadits ini dishohihkan oleh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shohiihah, no. 2026.
- Atsar ini hasan. Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih, I/316, no. 410.
- Atsar ini hasan. Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih, I/245, no. 275 dan I/322, no. 418.
Sumber : Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga, karya Yazid bin Abdul Qadir Jawaz, hal. 89 –91, penerbit Pustaka At-Taqwa.

