Skip to content

April 7, 2012

Keutamaan Berwudhu’

Masjid 189

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari Kiamat.

Wudhu’ (اَلْوُضُوْءُ) dengan mendhomahkan huruf wawu, artinya adalah perbuatan wudhu. Adapun jika huruf wawunya di fat-hah kan menjadi wadhu’ (اَلْوَضُوْءُ), artinya adalah air wudhu.

Wudhu adalah amalan yang ringan tapi pengaruhnya sangat menakjubkan dan luar biasa. Selain menghapuskan dosa kecil, wudhu’ juga mengangkat derajat seorang hamba sehingga hamba itu layak meraih kedudukan yang tinggi di sisi Allah Ta’ala.

Setiap Muslim diperintahkan wudhu’ bukan hanya ketika hendak sholat saja, bahkan mereka dianjurkan berwudhu’ dalam seluruh kondisinya. Seorang muslim dianjurkan selalu berada dalam kondisi bersuci (wudhu’) sebagaimana yang dahulu dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia. Mereka senantiasa berwudhu, baik dalam kondisi senang atau dalam kondisi susah dan kurang menyenangkan, seperti saat musim hujan dan musim dingin.

Meskipun wudhu’ adalah amalan yang sangat ringan dilakukan, namun kebiasaan berwudhu’ ini membutuhkan kesabaran yang tinggi. Sebab, kita sering kali terserang sifat malas, apalagi pada saat udara dingin. Pada edisi kali ini kami akan menyampaikan sebagian keutamaan wudhu’. Semoga sedikit tulisan ini bisa menambah semangat kita untuk senantiasa menjaga wudhu’ .

Wudhu Adalah Salah Satu Syarat Sahnya Sholat

Seorang Muslim yang hendak sholat harus membersihkan dirinya dari hadats, baik hadats besar maupun hadats kecil. Hadats besar dihilangkan dengan mandi junub, sedangkan hadats kecil dihilangkan dengan wudhu. Allah Ta’ala berfirman:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آَمَنُوْا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ

وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ (6)

 

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al-Maa’idah: 6)

Allah Ta’ala tidak akan menerima sholat yang dikerjakan dalam keadaan berhadats, baik untuk sholat fardhu maupun sholat sunnah. Sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

 

“Allah tidak akan menerima sholat salah seorang di antara kalian jika ia berhadats sehingga ia berwudhu.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhori, no. 135 dan Muslim, no. 225)

Hadits ini menunjukkan bahwa sholat yang dikerjakan tanpa wudhu’, maka sholat itu tidak sah dan tidak akan diterima, sebab wudhu’ adalah syarat sahnya sholat dan tercapainya pahala sholat.

Penghapus Dosa-Dosa Kecil

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ أَوِ الْمُؤْمِنُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ،

خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيْئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ،

فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيْئَةٍ

كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ،

فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيْئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلاَهُ مَعَ الْمَاءِ

أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنَ الذُّنُوْبِ.

 

“Jika seorang hamba Muslim atau Mukmin berwudhu lalu membasuh wajahnya, akan keluar dari wajahnya setiap dosa yang dilihat dengan kedua matanya bersamaan dengan keluarnya air atau tetesan air yang terakhir. Jika dia membasuh tangannya, akan keluar dari kedua tangannya setiap dosa yang pernah dilakukan oleh kedua tangannya itu bersamaan dengan air atau tetesan air yang terakhir. Jika dia membasuh kedua kakinya, akan keluar setiap dosa yang pernah dilakukan oleh kedua kakinya bersamaan dengan air atau tetesan air yang terakhir, sehingga dia akan keluar dalam keadaan benar-benar bersih dari dosa.” (Diriwayatkan oleh Muslim, no. 224).

Diriwayatkan dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوْءَ،

خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ جَسَدِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِهِ

 

“Barangsiapa berwudhu’ dan menyempurnakan wudhu’nya, niscaya kesalahan-kesalahannya akan keluar dari tubuhnya sampai-sampai dosa-dosa itu keluar dari bawah kuku-kukunya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 245).

Tanda Pengikut Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kita bahwa beliau akan mengenali ummatnya di Padang Mahsyar dengan adanya cahaya putih pada anggota tubuh mereka karena pengaruh wudhu’ ketika di dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kepada para sahabat tentang luasnya telaga beliau di Padang Mahsyar beserta warna, aroma dan rasa airnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

إِنَّ حَوْضِي أَبْعَدُ مِنْ أَيْلَةَ مِنْ عَدَنٍ لَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنْ الثَّلْجِ،

وَأَحْلَى مِنْ الْعَسَلِ بِاللَّبَنِ، وَلَآنِيَتُهُ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ النُّجُوْم،ِ

وَإِنِّي لَأَصُدُّ النَّاسَ عَنْهُ كَمَا يَصُدُّ الرَّجُلُ إِبِلَ النَّاسِ عَنْ حَوْضِهِ،

قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَتَعْرِفُنَا يَوْمَئِذٍ؟

قَالَ: نَعَمْ لَكُمْ سِيْمَا لَيْسَتْ لِأَحَدٍ مِنَ الْأُمَمِ تَرِدُوْنَ عَلَيَّ غُرًّا مُحَجَّلِيْنَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوْءِ

 

“Sesungguhnya telagaku itu lebih panjang dari jarak antara Aylah (sebuah kota di teluk ‘Aqobah, Yordania) dan ‘Adan (kota Yaman). Sungguh telagaku itu lebih putih dari salju, lebih manis dari madu dicampur susu, serta bejana-bejananya lebih banyak dari bintang-bintang. Aku sungguh akan menjaganya dari orang lain (selain umatku), sebagaimana seseorang menjaga telaganya dari unta orang lain.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah pada hari itu Anda mengenali kami?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ya. Kalian punya tanda yang tidak dimiliki oleh seorangpun dari umat lain. Kalian datang kepadaku dengan wajah, tangan dan kaki bercahaya putih karena wudhu.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 364)

Seorang muslim akan dikenali oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan cahaya putih pada wajah, tangan dan kakinya. Maka hendaknya setiap orang diantara kita menjaga cahaya ini dengan menjaga wudhu dan sholat. Abdur Ro’uf al-Munawi rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang lebih banyak sujudnya atau wudhu’nya di dunia, niscaya wajahnya nanti akan lebih bercahaya dan lebih berseri dibandingkan selainnya. Maka di sana nanti, kedudukan mereka akan bertingkat-tingkat sesuai besarnya cahaya”. (Faidhul Qodir, 2/232).

Separuh Iman

Seorang tak akan meraih pahala sholat, selain ia melakukan wudhu’, lalu mengerjakan sholat. Jadi, wudhu’ ibaratnya separuh dari iman (yakni, sholat). Ini menunjukkan kepada kita tentang ketinggian nilai dan kedudukan wudhu’ di sisi Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 

اَلطُّهُوْرٌ شَطْرُ اْلإِيْمَانِ، وَالْحَمْدُ للهِ تَمْلأُ الْمِيْزَانَ،

وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لله تَمْلآنِ ـ أَوْ نَمْلأُ ـ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ،

وَالصَّلاَةُ نُوْرٌ، وَالصَّدَّقَةُ بُرْهَانٌ، وَالصَبْرُ ضِيَاءٌ وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْعَلَيْكَ؛

كُلُّ النَّاسِ يَغْدُوْ، فَبَائِعٌ نَفْسَهُ، فَمُعْتِقُهَا، أَوْ مُوْبِقُهَا

 

Bersuci (wudhu’) adalah separuh dari iman. (Ucapan) alhamdulillaah memenuhi timbangan, (ucapan) subhanallaah wal hamdulillaah keduanya memenuhi (ruang) antara langit dan bumi. Shalat itu cahaya, shadaqah itu adalah bukti, sabar adalah sinar, dan Al-Qur’an itu hujjah (pembela) bagimu atau hujatan atasmu. Setiap orang pergi untuk menjual dirinya, lalu ada yang membebaskan dirinya dan ada pula yang membinasakan dirinya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 223)

Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud iman dalam hadits ini adalah sholat, sebagaimana tercantum dalam firman Allah Ta’ala:

 

وَمَا كَانَ اللهُ لِيُضِيْعَ إِيْمَانَكُمْ…  (143)

 

“Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu..” (QS. Al-Baqarah: 143)

Yang dimaksud iman dalam ayat ini adalah sholat kalian menghadap Bairul Maqdis sebelum ada perintah mengadap Ka’bah. Jika yang dimaksud iman dalah adalah sholat, maka sholat itu tidak diterima kecuali dengan bersuci, sehingga dalam hal ini bersuci adalah separuh iman. (Syarah Arba’in An-Nawawi, karya Yazid bin ‘Abdul Qodir Jawas, hal. 433)

Jalan Menuju Surga

Jalan-jalan menuju Surga telah dimudahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla bagi orang yang Allah berikan taufiq dan hidayah. Perhatikan Bilal bin Robah radhiyallahu anhu, beliau mendapatkan kabar gembira bahwa ia termasuk penduduk Surga, sebab ia telah berusaha meniti sebuah jalan diantara jalan-jalan surga. Abu Hurairah radhiyallahu anhu menceritakan,

 

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلاَلٍ عِنْدَ صَلاَةِ الْفَجْرِ:

يَا بِلاَلُ، حَدِّثْنِيْ بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الإِسْلاَمِ،

فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ،

قَالَ: مَا عَمِلْتُ عَمَلاً أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُوْرًا فِيْ سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ

إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُوْرِ مَا كُتِبَ لِيْ أَنْ أُصَلِّيَ

 

“Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Bilal ketika sholat Fajar, “Wahai Bilal, ceritakan kepadaku tentang amalan yang paling engkau harapkan pahalanya sejak engkau memeluk Islam! Sesungguhnya aku mendengarkan bunyi kedua sandalmu di depanku di dalam surga”. Bilal menjawab, “Aku tidaklah mengerjakan suatu amal yang paling aku harapkan pahalanya, selain dari pada setiap kali bersuci, baik di waktu malam atau siang, aku selalu mengerjakan sholat semampu saya.”  (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhori, no. 1149 dan Muslim, no. 6274).

Hadits ini menunjukkan tentang dianjurkannya mengerjakan sholat setelah berwudhu’, agar wudhu’nya tidak terlepas dari tujuan yang dimaksudkan. Ibnul Jauziy rahimahullah berkata, “Di dalam hadits ini terdapat anjuran untuk melakukan sholat usai berwudhu’ agar wudhu tidak kosong (terlepas) dari maksudnya”. (Fat-hul Bari, 4/45)

Hadits ini juga menunjukkan kepada kita bahwa berwudhu’ lalu sholat sunnah setelahnya merupakan amalan yang sangat besar pahalanya.

Pelepas Ikatan Setan

Setan senantiasa mengintai dan mengawasi kita. Bahkan ia selalu mencari jalan untuk menjauhkan kita dari amal kebaikan yang telah diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya. Diantara makar setan, ia membuat ikatan (buhul) pada seorang hamba saat mereka sedang tidur agar menjadi berat untuk bangun beribadah.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ،

يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ: لَيْلٌ طَوِيْلٌ فَارْقُدْ،

فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ،

فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ،

فَأَصْبَحَ نَشِيْطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيْثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ.

 

“Setan membuat ikatan pada tengkuk seseorang diantara kalian apabila tidur, yakni sebanyak tiga ikatan. Pada setiap ikatan dia berkata, “Tetaplah kamu tidur, malam masih panjang!” Jika ia bangun lalu mengingat Allah Ta’ala, maka lepaslah satu ikatan. Jika ia berwudhu’, terlepaslah satu ikatan yang lain. Jika ia sholat, terlepas pula satu ikatan. Maka ia akan memasuki waktu Shubuh dalam keadaan semangat dan berjiwa bersih. Jika tidak demikian, maka di pagi harinya dia akan berjiwa kotor dan malas”. (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhori, no. 1091 dan Muslim, no. 776)

Al-Qodhi Abul Walid Sulaiman bin Kholaf Al-Baji rahimahullah berkata, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan dalam hadits ini bahwa dengan dzikrullah, wudhu’, dan sholat, maka semua ikatan (buhul) setan akan terlepas, dan seorang muslim akan selamat dari makar setan dan selamat pula dari keburukan buhul-buhulnya. Maka ia akan memasuki waktu pagi dalam keadaan bersemangat dan jiwanya menjadi baik dengan sebab amalan kebajikan yang ia lakukan semalam”. (Al-Muntaqo, karya Al-Baji, 1/434)

Inilah sebagian keutamaan wudhu yang dapat kami sampaikan. Semoga menjadi pendorong bagi kita semua untuk senantiasa menjaga wudhu’ demi meraih keutamaan-keutamaan tersebut di atas. Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia menjadikan kita sebagai ummat Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam yang dikenali dengan cahaya wudhu’.

Sumber : Buletin At-Taubah edisi ke-63

www.attaubah.com

Read more from Fadhail

Share your thoughts, post a comment.

Note: HTML is allowed. Your email address will never be published.

Subscribe to comments

Switch to our mobile site