<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>atTaubah.com</title>
	<atom:link href="http://attaubah.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://attaubah.com</link>
	<description>Meniti Sunnah, Menghindari Bid&#039;ah</description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 Sep 2012 13:43:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Empat Hal Penenang Jiwa</title>
		<link>http://attaubah.com/empat-hal-penenang-jiwa.html</link>
		<comments>http://attaubah.com/empat-hal-penenang-jiwa.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Sep 2012 13:27:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafs]]></category>
		<category><![CDATA[al-hasan al bashri]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[rezeki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://attaubah.com/?p=712</guid>
		<description><![CDATA[Seorang laki-laki datang kepada Al-Hasan]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang laki-laki datang kepada Al-Hasan Al-Bashri <em>rahimahullah. </em>Ia bertanya, “Apa rahasia sifat zuhudmu terhadap dunia wahai sang imam?”</p>
<p>Beliau menjawab, “Ada empat hal :</p>
<p>Aku tahu bahwa rezekiku tidak akan diraih oleh orang lain. Maka aku menyibukkan diriku sendiri untuk rezekiku.<span id="more-712"></span></p>
<p>Aku tahu bahwa amal perbuatanku tidak akan dilakukan oleh orang lain. Maka aku menyibukkan diriku sendiri untuk melakukannya.</p>
<p>Aku tahu bahwa Allah <em>Ta’ala </em>selalu melihatku. Maka aku malu bila Allah <em>Ta’ala </em>melihatku sedang berbuat maksiat.</p>
<p>Aku tahu bahwa kematian menantiku. Maka aku mempersiapkan bekal untuk menghadap Rabbku.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>*****</p>
<p>Sumber : <em>Hiburan Orang-Orang Sholih</em>, Muhammad Amin Al-Jundi, hal, 105-106. Penerbit : Pustaka Arafah.</p>
<p>Ditulis oleh <a title="wwwattaubah.com" href="http://attaubah.com" target="_blank">dr. Muhaimin Ashuri</a></p>
<p>Artikel <a title="www.attaubah.com" href="http://attaubah.com" target="_blank">www.attaubah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://attaubah.com/empat-hal-penenang-jiwa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Langka dan Lucu</title>
		<link>http://attaubah.com/yang-langka-dan-lucu.html</link>
		<comments>http://attaubah.com/yang-langka-dan-lucu.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Sep 2012 13:23:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah-Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[khasyyah]]></category>
		<category><![CDATA[lucu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://attaubah.com/?p=709</guid>
		<description><![CDATA[Ada seorang laki-laki tinggal di]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Ada seorang laki-laki tinggal di sebuah rumah sewaan. Kayu atapnya telah usang dan rusak. Atapnya banyak yang hancur. Ketika pemilik rumah datang meminta uang sewa, maka si penyewa itu berkata, “Perbaiki dulu atapnya.”</p>
<p>Sang pemilik rumah menjawab, “Jangan kawatir, tidak apa-apa kok. Atap itu sedang bertasbih kepada Allah.”</p>
<p>Si penyewa menimpali, “Saya kawatir kalau atap itu punya rasa <em>khasyyah </em>(takut kepada Allah), lantas dia bersujud.”<span id="more-709"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>****</p>
<p>Sumber : <em>Hiburan Orang-Orang Sholih</em>, Muhammad Amin Al-Jundi, hal, 100-101. Penerbit : Pustaka Arafah.</p>
<p>Ditulis oleh <a title="www.attaubah.com" href="http://attaubah.com" target="_blank">dr. Muhaimin Ashuri</a></p>
<p>artikel <a title="www.attaubah.com" href="http://attaubah.com" target="_blank">www.attaubah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://attaubah.com/yang-langka-dan-lucu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kebaikan Jiwa</title>
		<link>http://attaubah.com/kebaikan-jiwa.html</link>
		<comments>http://attaubah.com/kebaikan-jiwa.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Sep 2012 17:36:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah-Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafs]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[nasihat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://attaubah.com/?p=704</guid>
		<description><![CDATA[Seorang laki-laki datang kepada Ibrahim]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang laki-laki datang kepada Ibrahim bin Adham. Beliau termasuk salah satu dokter untuk penyakit hati.</p>
<p>Orang itu berkata kepadanya, “Sungguh, saya telah menjerumuskan diri saya ke dalam kemaksiatan. Oleh karena itu, tolong berikan kepadaku resep untuk mencegahnya.</p>
<p>Ibrahim bin Adham berkata kepadanya, “Jika engkau mampu melakukan lima hal, engkau tidak akan menjadi ahli maksiat.”<span id="more-704"></span></p>
<p>Orang itu berkata –dia sangat penasaran untuk mendengarkan nasihatnya, “Tolong ungkapkan apa yang ada di benakmu wahai Ibrahim bin Adham!</p>
<p>Ibrahim bin Adham berkata, “<strong><em>Pertama</em></strong>, jika engkau hendak berbuat maksiat kepada Allah<em>, </em>maka janganlah engkau makan sedikit pun dari rezeki-Nya<em>. </em></p>
<p>Orang itu heran kemudian di bertanya, “Bagaimana engkau bisa mengatakan hal itu wahai Ibrahim. Padahal semua rezeki berasal dari sisi Allah<em>. </em></p>
<p>Ibrahim berkata, “Jika engkau telah menyadari hal itu, maka apakah pantas engkau makan rezeki-Nya padahal engkau berbuat maksiat kepada-Nya?” Laki-laki itu menjawab, “Tentu tidak pantas. Lalu apa yang kedua wahai Ibrahim?”</p>
<p>Ibrahim bin Adham berkata, “<strong><em>Kedua</em></strong>, jika engkau hendak berbuat maksiat kepada Allah<em>, </em>maka janganlah engkau tingggal di negeri-Nya.”</p>
<p>Orang tersebut terheran-heran melebihi yang pertama, kemudian dia berkata, “Bagaimana anda bisa mengatakan hal itu wahai Ibrahim, padahal semua negeri ini milik Allah?<em>”</em></p>
<p>Ibrahim menjelaskan kepada-Nya, “Jika engkau telah menyadari hal itu, maka apakah pantas engkau tinggal di negeri-Nya padahal engkau berbuat maksiat kepada-Nya?” Laki-laki itu menjawab, “Tentu tidak pantas. Lalu apa yang ketiga, wahai Ibrahim?”</p>
<p>Ibrahim bin Adham berkata, “<strong><em>Ketiga</em></strong>, jika engkau hendak berbuat maksiat kepada Allah<em>, </em>maka carilah tempat di mana  Allah <em>Ta’ala </em>tidak dapat melihatmu, lalu berbuatlah maksiat di tempat itu!”</p>
<p>Orang itu berkata, “Bagaimana engkau bisa mengatakan hal itu wahai Ibrahim, padahal Allah Maha mengetahui segala perkara yang rahasia (dan yang tersembunyi)? Dia dapat mendengar merayapnya semut pada batu besar yang keras di malam yang gelap.”</p>
<p>Ibrahim berkata kepadanya, “Jika engkau telah menyadari hal itu, maka apakah pantas engkau berbuat maksiat kepada-Nya?</p>
<p>Orang itu berkata, “Tentu tidak pantas. Lalu apa yang keempat, wahai Ibrahim?”</p>
<p>Ibrahim bin Adham berkata, “<strong><em>Keempat</em></strong>, jika Malaikat Maut datang mencabut nyawamu, maka katakanlah kepadanya, “Tundalah kematianku sampai waktu tertentu!”</p>
<p>Laki-laki itu berkata, “Bagaimana engkau bisa mengatakan hal itu, padahal Allah telah berfirman:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُوْنَ (34)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaatpun dan tidak dapat (pula) mempercepatnya.” </em>(QS. Al-A’raf: 34)</p>
<p>Ibrahim berkata, “Jika engkau telah menyadari hal itu, mengapa engkau masih mengharapkan keselamatan?” Orang itu menjawab, “Iya. Lalu apa yang kelima wahai Ibrahim?”</p>
<p>Ibrahim bin Adham berkata, “<strong><em>Kelima</em></strong>, Apabila Malaikat Zabaniyah mendatangimu untuk menyeretmu ke Jahannam, maka janganlah engkau ikut mereka.”</p>
<p>Belum sampai orang itu mendengarkan nasihat yang kelima, dia berkata sambil menangis, “Cukup, wahai Ibrahim. Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.”</p>
<p>Akhirnya orang itu senantiasa beribadah sampai meninggal dunia.</p>
<p>*****</p>
<p>Sumber : <em>Hiburan Orang-Orang Sholih</em>, Muhammad Amin Al-Jundi, hal, 85-87. Penerbit : Pustaka Arafah. Ditulis dengan sedikit perubahan kata.</p>
<p>Ditulis oleh <a title="www.attaubah.com" href="http://attaubah.com" target="_blank">dr. Muhaimin Ashuri</a></p>
<p>artikel <a title="www.attaubah.com" href="http://attaubah.com" target="_blank">www.attaubah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://attaubah.com/kebaikan-jiwa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Engkau Marah</title>
		<link>http://attaubah.com/jangan-engkau-marah.html</link>
		<comments>http://attaubah.com/jangan-engkau-marah.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Sep 2012 17:26:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafs]]></category>
		<category><![CDATA[amarah]]></category>
		<category><![CDATA[jangan marah]]></category>
		<category><![CDATA[marah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://attaubah.com/?p=698</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji hanya bagi Allah]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Segala puji hanya bagi Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari Kiamat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ،</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :ِ أَوْصِنِيْ،</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">قَالَ : لاَ تَغْضَبْ، فَرَدَّدَ مِرَارًا؛ قَالَ : لاَ تَغْضَبْ</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam: “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!”</em> (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 6116).<span id="more-698"></span></p>
<p>Sahabat yang meminta wasiat dalam hadits ini bernama Jariyah bin Qudamah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>. Ia meminta wasiat kepada Nabi dengan sebuah wasiat yang singkat dan padat yang mengumpulkan berbagai perkara kebaikan, agar ia dapat menghafalnya dan mengamalkannya. Maka Nabi berwasiat kepadanya agar ia tidak marah. Kemudian ia mengulangi permintaannya itu berulang-ulang, sedang Nabi <em>shallallahu ‘alihi wa sallam</em> tetap memberikan jawaban yang sama. Ini menunjukkan bahwa marah adalah pokok berbagai kejelekan, dan menahan diri darinya adalah pokok segala kebaikan.</p>
<p>Marah adalah bara api yang dilemparkan oleh syaitan ke dalam hati anak Adam yang menyebabkan hati bergejolak sehingga ia mudah emosi, dadanya membara, urat sarafnya menegang, wajahnya memerah, dan terkadang tindakannya pun menjadi tidak masuk akal.</p>
<p>Marah yang dilarang dalam hadits di atas adalah marah yang dilakukan karena menuruti hawa nafsu dan menimbulkan kerusakan. Inilah yang dimaksud oleh Ja&#8217;far bin Muhammad <em>rahimahullah</em>. Beliau mengatakan, “Marah adalah pintu segala kejelekan.” (<em>Jaami&#8217;ul &#8216;Uluum wal Hikam</em>, I/363)</p>
<p>Di dalam Al-Qur&#8217;an al-Karim disebutkan bahwasanya Allah <em>Ta’ala </em>marah. Adapun marah yang dinisbatkan kepada Allah <em>Ta&#8217;ala Yang Mahasuci</em> adalah marah dan murka kepada orang-orang kafir, munafik, dan orang yang melewati batas-Nya.</p>
<p>Sifat marah bagi Allah <em>Ta’ala</em> merupakan sifat yang sesuai dengan keagungan dan kemuliaan bagi Allah. Adapun marah yang dinisbatkan kepada makhluk, maka ada yang terpuji dan ada pula yang tercela. Terpuji apabila dilakukan karena Allah dalam membela agama-Nya dengan ikhlas, membela hak-hak-Nya, dan tidak menuruti hawa nafsu, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Beliau marah apabila ada hukum-hukum Allah dan syari&#8217;at-Nya yang dilanggar. Begitu pula marahnya para Nabi dan Rasul-Nya <em>&#8216;alaihimush sholatu was salam</em>. Adapun marah yang tercela adalah apabila dilakukan karena kepentingan duniawi, dan melewati batas.</p>
<p>Sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, “Engkau jangan marah” pada hadits di atas mengandung dua hal:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, kendalikan dirimu tatkala muncul sebab-sebab yang memicu timbulnya marah, sehingga engkau tidak marah. <strong>Kedua</strong>, janganlah engkau turuti keinginan marahmu. Yakni usahakan dirimu untuk tidak mengerjakan apa yang diperintah oleh amarahmu. Sebab, apabila amarah telah menguasai manusia, maka amarah itulah yang akan memerintah dan yang melarangnya.</p>
<p>Hadits di atas mengandung perintah untuk memiliki akhlak yang baik, berupa dermawan, murah hati, penyantun, malu, tawadhu&#8217;, sabar, menahan diri dari mengganggu orang lain, pemaaf, menahan amarah, wajah berseri, dan akhlak-akhlak baik yang semisalnya.</p>
<p><strong>Pujian Bagi Orang Yang Menahan Amarah</strong></p>
<p>Allah <em>Ta&#8217;ala</em> memuji orang-orang yang pandai menahan marahnya. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ (37)</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“… Dan apabila mereka marah segera memberi maaf.”</em> (QS. Asy-Syura: 37)</p>
<p>Dan juga firman-Nya:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ (134)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memerintahkan orang yang sedang marah untuk melakukan berbagai usaha untuk menahan dan meredakan amarah-nya. Dan beliau memuji orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.</p>
<p>Menurut syari&#8217;at Islam, orang yang kuat adalah orang yang mampu melawan dan mengekang hawa nafsunya ketika marah. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.”</em> (Hadits Shohih. Diriwa-yatkan oleh al-Bukhori, no. 6114 dan Muslim, no. 2609)</p>
<p>Ibnu Baththol <em>rahimahullah</em> mengatakan bahwa melawan hawa nafsu lebih berat daripada melawan musuh. (<em>Fat-hul-Baari</em>, X/518)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjelaskan tentang keutamaan orang yang dapat menahan amarahnya. Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">دَعَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ مَا شَاءَ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari Kiamat Allah &#8216;Azza wa Jalla akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai.”</em> (Diriwayatkan oleh Ahmad, III/440; Abu Dawud, no. 4777; at-Tirmidzi, no. 2021; dan Ibnu Majah, no. 4286. Hadits ini dinilai hasan oleh al-Albani dalam <em>Shohiih al-Jaami&#8217;ish Shaghiir</em>, no. 6522).</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga pernah bersabda:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga.”</em> (Diriwayatkan oleh ath-Thobroni dalam <em>al-Mu&#8217;jamul Ausath</em>, no. 2374 dan dishohihkan oleh al-Albani dalam <em>Shohiih al-Jaami&#8217;ish Shoghiir</em>, no. 7374)</p>
<p><strong>Cara Mengobati Amarah Jika Bergejolak</strong></p>
<p>Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk meredakan amarah:</p>
<p>1. Berlindung kepada Allah dari godaan syaitan dengan membaca:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.” </em></p>
<p>Ketika Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melihat seseorang sangat marah, beliau bersabda:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ لَوْ قَالَ : أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Aku sungguh mengetahui satu kalimat yang jika ia mengucapkannya niscaya marahnya akan hilang, yaitu ia mengucapkan: “A’uudzu billaahi minasy syaithoonir rojiim (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk).”</em> (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 3282 dan Muslim, no. 2610)</p>
<p>Allah <em>Ta&#8217;ala</em> memerintahkan kita apabila kita diganggu syaitan hendaknya kita berlindung kepada Allah. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ (200)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“Dan jika syaitan datang mengodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”</em> (QS. Al-A&#8217;raf: 200)</p>
<p>2. Mengucapkan kalimat-kalimat yang baik, berdzikir, dan istighfar.</p>
<p>3. Dianjurkan berwudhu’.</p>
<p>4.  Hendaklah diam dan tidak mengumbar amarah. Hendaknya seorang muslim mengekang amarahnya dalam dirinya dan tidak menampakkannya kepada orang lain dengan lisan dan perbuatannya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.”</em> (Diriwayatkan oleh Ahmad, I/239; al-Bukhori dalam <em>al-Adab al-Mufrad</em>, no. 245. Hadits ini dishohihkan oleh  al-Albani dalam <em>Shahiih al-Jaami</em>&#8216;, no. 693 dan <em>Silsilah ash-Shahiihah</em>, no. 1375).</p>
<p>Ini juga merupakan obat yang manjur bagi amarah, karena jika orang sedang marah maka keluarlah darinya ucapan-ucapan yang kotor, keji, melaknat, mencaci-maki dan lain-lain yang dampak negatifnya besar dan ia akan menyesal karenanya ketika marahnya hilang. Jika ia diam, maka semua keburukan itu hilang darinya.</p>
<p>*****</p>
<p>Sumber : Buletin at-Taubah edisi ke-73</p>
<p>ditulis oleh <a title="www.attaubah.com" href="http://attaubah.com" target="_blank">dr. Muhaimin Ashuri</a></p>
<p>Artikel <a title="www.attaubah.com" href="http://attaubah.com" target="_blank">www.attaubah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://attaubah.com/jangan-engkau-marah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebab-Sebab Rusaknya Amal (bag. 01)</title>
		<link>http://attaubah.com/sebab-sebab-rusaknya-amal-bag-01.html</link>
		<comments>http://attaubah.com/sebab-sebab-rusaknya-amal-bag-01.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jun 2012 15:44:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafs]]></category>
		<category><![CDATA[murtad]]></category>
		<category><![CDATA[syirik]]></category>
		<category><![CDATA[syirik akbar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://attaubah.com/?p=692</guid>
		<description><![CDATA[Pertama : Dosa Kekafiran, Syirik]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertama : Dosa Kekafiran, Syirik dan Murtad</strong></p>
<p>Segala puji hanya bagi Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari Kiamat.</p>
<p>Allah memberitakan bahwa tujuan penciptaan kita tidak lain adalah untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ (56)</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”</em> (QS. Adz-Dzaariyaat: 56).<span id="more-692"></span></p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> menjelaskan bahwa ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah baik berupa perkataan atau perbuatan, yang lahir maupun yang batin. (<em>Al-&#8217;Ubudiyah</em>, hal. 6)</p>
<p>Ibadah disini meliputi do&#8217;a, sholat, nadzar, kurban, rasa takut, <em>istighatsah</em> (minta pertolongan) dan sebagainya. Ibadah ini harus ditujukan kepada Allah semata dan tidak boleh ditujukan kepada selain-Nya. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5)</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Hanya kepada-Mu lah kami beribadah dan hanya kepada-Mu lah kami minta pertolongan.”</em> (QS. Al-Fatihah: 5).</p>
<p>Barangsiapa yang menujukan salah satu ibadah tersebut kepada selain Allah <em>Ta&#8217;ala</em> maka inilah kesyirikan dan pelakunya disebut musyrik.</p>
<p>Orang yang dalam hidupnya banyak melakukan amal sholih seperti sholat, puasa, shadaqah dan lainnya, namun apabila dalam hidupnya ia berbuat syirik akbar dan belum bertaubat sebelum matinya, maka seluruh amalnya akan terhapus. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وَلَوْ أَشْرَكُوْا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ (88)</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.”</em> (QS. Al-An&#8217;aam: 88).</p>
<p>Begitu besarnya urusan ini, hingga Allah <em>Ta&#8217;ala</em> memberi peringatan kepada para Nabi-Nya tentang bahaya kesyirikan yang apabila menimpa pada diri mereka maka akan menghapuskan seluruh amalnya. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (65)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. &#8220;Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”</em> (QS. Az-Zumar: 65)</p>
<p><strong>Pelaku Syirik Akbar Kekal di Neraka</strong></p>
<p>Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا (48)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”</em> (QS. An-Nisaa&#8217;: 48).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ أَنْصَارٍ (72)</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Barangsiapa yang mensekutukan Allah, pasti Allah haramkan atasnya untuk masuk Surga dan tempatnya adalah di Neraka. Dan tidak ada bagi orang yang zholim ini seorang penolong pun.”</em> (QS. Al-Ma&#8217;idah: 72).</p>
<p>Ketahuilah, perbuatan syirik tidak akan mendatangkan manfaat sedikit pun kepada pelakunya. Ia akan merugi selama-lamanya, amalannya tertolak dan menjadi sia-sia.</p>
<p><strong>Bukankah Orang Kafir Juga Pernah Melakukan Kebaikan?</strong></p>
<p>Tidak kita ingkari bahwa di antara orang kafir dan musyrik ada yang gemar bersedekah, berbakti kepada orang tuanya, menyambung tali silaturahim atau pernah melakukan amal kebaikan lainnya. Apakah ini tidak berpahala?</p>
<p>Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وَمَنْ أَرَادَ اْلآَخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُوْرًا (19)</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.”</em> (QS. Al-Israa&#8217;: 19).</p>
<p>Renungkanlah firman-Nya: <em>“&#8230;sedang ia adalah mukmin,”</em> hal ini ditekankan karena kekafiran dan kesyirikan adalah menjadi sebab amalan itu tidak bermanfaat.</p>
<p>Orang yang mati dalam keadaan kafir, tetapi mereka melakukan sebagian amal kebaikan, Allah <em>Ta&#8217;ala</em> tidak akan menyia-nyiakan perbuatan baiknya itu, namun Allah akan membalasnya di dunia saja.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">إِنَّ اللهَ لاَ يَظْلِمُ مُؤْمِنًا حَسَنَةً يُعْطَى بِهَا فِي الدُّنْيَا وَيُجْزَى بِهَا فِي اْلآخِرَةِ،</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وَأَمَّا الْكَافِرُ فَيُطْعَمُ بِحَسَنَاتِ مَا عَمِلَ بِهَا لِلَّهِ فِي الدُّنْيَا</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">حَتَّى إِذَا أَفْضَى إِلَى اْلآخِرَةِ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَةٌ يُجْزَى بِهَا</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah tidak akan menzholimi kebaikan seorang mukmin. Dia memberinya rizki (dalam riwayat lain: Dia memberinya pahala) di dunia dan balasan di Akhirat. Adapun orang kafir, ia diberi makanan dengan kebaikan yang ia lakukan di dunia sehingga apabila ia telah pulang ke Akhirat, tidak satu pun kebaikan yang bisa dibalas.”</em> (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2808)</p>
<p>Suatu hari, Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em> pernah bertanya kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tentang Abdullah bin Jud&#8217;an yang mati dalam keadaan syirik pada masa Jahiliyah, akan tetapi dia adalah orang baik, memberi makan, menolong orang yang teraniaya dan punya kebaikan lain yang banyak. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">لاَ يَنْفَعُهُ، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا: رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“Semua amalan itu tidak bermanfaat sedikit pun, karena ia tidak pernah sekalipun mengatakan: “Wahai Rabbku, ampunilah kesalahanku pada Hari Pembalasan.”</em> (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 214).</p>
<p>‘Abdullah bin Jad&#8217;an adalah orang yang sering memberi makan, sampai-sampai ia menyediakan sebuah piring besar berisi makanan untuk tamu tidak diundang, yang makanan itu bisa diambil menggunakan tangga. Semua itu tidak bermanfaat untuknya di Akhirat karena ia mati dalam keadaan kafir. Dia mengingkari adanya Hari Kebangkitan.</p>
<p>Meskipun orang-orang kafir melakukan banyak kebaikan namun mereka mati dalam keadaan kafir, tidak akan diterima oleh Allah, taubat dan tebusannya, karena mereka telah menghabiskan kebaikan mereka dalam kehidupan dunia. Sebagaimana Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">يَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِيْنَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُوْنَ فِي اْلأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُوْنَ (20)</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke Neraka, (dan dikatakan kepada mereka): “Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan adzab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa haq dan karena kamu telah fasik.&#8221;</em> (QS. Al-Ahqaaf: 20).</p>
<p><strong>Jika Orang Kafir Masuk Islam</strong></p>
<p>Apabila seorang kafir masuk Islam dan wafat di atas keimanan, Allah akan menghapus semua kesalahannya, dan dituliskan untuknya kebaikan yang pernah ia lakukan sebelum masuk islam, sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh dalil-dalil yang gamblang dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em></p>
<p>Dari Abu Sa&#8217;id Al-Khudri, ia bercerita bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">إِذَا أَسْلَمَ الْعَبْدُ فَحَسُنَ إِسْلاَمُهُ كَتَبَ اللهُ لَهُ كُلَّ حَسَنَةٍ كَانَ أَزْلَفَهَا</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وَمُحِيَتْ عَنْهُ كُلُّ سَيِّئَةِ كَانَ أَزْلَفَهَا،</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">ثُمَّ كَانَ بَعْدَ ذَلِكَ الْقِصَاصُ: الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وَالسَّيِّئَةُ بِمِثْلِهَا إِلاَّ أَنْ يَتَجَاوَزَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهَا</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Apabila seorang hamba masuk Islam dan keislamannya itu baik, Allah akan menulis setiap kebaikan yang pernah ia lakukan dan dihapus darinya setiap kejelekan yang pernah ia lakukan, kemudian setelah itu adalah balasan (yaitu): satu kebaikan dihitung 10 sampai 700 kali lipat, setiap kejelekan dihitung satu, kecuali bila Allah memaafkannya.”</em> (Diriwayatkan oleh an-Nasa&#8217;i, no. 4998; al-Baihaqi dalam Syu&#8217;abul Iiman, no. 24 dan dishohihkan oleh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shohiihah, no. 247)</p>
<p>Dari Hakim bin Hizam <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, ia berkata kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang perkara (ibadah) yang dulu aku pernah lakukan di masa Jahiliyah yang berupa shadaqah, memerdekakan budak, atau silaturahmi. Apakah ada pahalanya?” Beliau menjawab:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">أَسْلَمْتَ عَلَى مَا أَسْلَفْتَ مِنْ خَيْرٍ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“Engkau masuk Islam di atas kebaikan yang pernah engkau lakukan.”</em> (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 1369 dan Muslim, no. 123).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dikutip dari buletin at-Taubah edisi ke-69</p>
<p><a title="www.attaubah.com" href="http://attaubah.com" target="_blank">www.attaubah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://attaubah.com/sebab-sebab-rusaknya-amal-bag-01.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebab-Sebab Terhapusnya Amal Sholih</title>
		<link>http://attaubah.com/sebab-sebab-terhapusnya-amal-sholih.html</link>
		<comments>http://attaubah.com/sebab-sebab-terhapusnya-amal-sholih.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jun 2012 14:52:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafs]]></category>
		<category><![CDATA[amal shalih]]></category>
		<category><![CDATA[permisalan]]></category>
		<category><![CDATA[rahmat Allah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://attaubah.com/?p=686</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji hanya bagi Allah]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Segala puji hanya bagi Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari Kiamat.</p>
<p>Kaum Muslimin <em>rahimakumullah</em>, ketahuilah bahwa sesungguhnya rahmat Allah sangatlah luas.  Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكَاةَ</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وَالَّذِيْنَ هُمْ بِآَيَاتِنَا يُؤْمِنُوْنَ (156)</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“&#8230; dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.”</em> (QS. Al-A&#8217;raaf: 156).<span id="more-686"></span></p>
<p>Diriwayatkan dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, ia mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">جَعَلَ اللهُ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ،</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ جُزْءًا وَأَنْزَلَ فِي الأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا،</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">فَمِنْ ذَلِكَ الْجُزْءِ يَتَرَاحَمُ الْخَلْقُ</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">حَتَّى تَرْفَعَ الْفَرَسُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تُصِيْبَهُ</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Allah menjadikan rahmat-Nya 100 bagian. Dia menahan 99 bagian di sisi-Nya dan menurunkan satu bagian di bumi. Dari satu bagian itulah semua makhluk saling berkasih sayang, sampai-sampai seekor kuda pun mengangkat kakinya karena takut akan menginjak anaknya.”</em> (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 5654 dan Muslim, no. 2752)</p>
<p>Diriwayatkan dari ‘Umar bin Khaththab <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, bahwasanya Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah melihat seorang wanita sedang mencari-cari anaknya. Ketika melihat anaknya, ia langsung menggendong dan menyusuinya. Lantas Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertanya kepada para sahabat:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">أَتَرَوْنَ هَذِهِ الْمَرْأةَ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ؟</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">قُلْنَا: لاَ، وَاللهِ. فَقَالَ: اَللهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Apakah kalian berpendapat bahwa ibu ini tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?” Kami (para sahabat) menjawab, “Demi Allah, tidak.” Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: “(Ketahuilah), Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya melebihi sayangnya wanita ini kepada anaknya.”</em> (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 5653 dan Muslim, no. 2754)</p>
<p>Diriwayatkan dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, bahwasanya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">إِنَّ الشَّيْطَانَ قَالَ: وَعِزَّتِكَ يَا رَبِّ،</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">لاَ أَبْرَحُ أُغْوِيْ عِبَادَكَ مَا دَامَتْ أَرْوَاحُهُمْ فِيْ أَجْسَادِهِمْ،</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">فَقَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: وَعِزَّتِي وَجَلالِي، لاَ أَزَالُ أَغْفِرُ لَهُمْ مَا اسْتَغْفَرُونِي</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Sesungguhnya syaithon berkata, “Demi kemuliaan-Mu wahai Rabbku, aku akan senantiasa menyesatkan hamba-Mu selama ruh mereka masih berada dalam jasad-jasad mereka (yakni selama masih hidup). Allah ‘Azza wa Jalla membalas: “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku akan senantiasa memberi ampunan kepada mereka selama mereka meminta ampun kepada-Ku.”</em> (Diriwayatkan oleh Ahmad, 3/29; Abu Ya&#8217;la, 2/530; al-Hakim, no. 7672; dan ath-Thabrani dalam <em>Mu&#8217;jamul Ausath</em>, no. 8788. Hadits ini dinilai hasan oleh al-Albani dalam <em>Shohiih al-Jaami&#8217;</em>, no. 1650)</p>
<p>Al-Munawi <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Ini janji Allah untuk memberi ampunan.” (<em>Faidhul Qadir</em>, 2/473)</p>
<p><strong>Para Salafush Sholih Takut Amalnya Tidak Allah Terima</strong></p>
<p>Pembaca yang dirahmati Allah <em>Ta’ala</em>, luasnya rahmat dan ampunan Allah janganlah menjadikan kita merasa aman dari siksa dan adzab-Nya. Janganlah kita merasa bahwa segala amalan yang kita kerjakan pasti diterima oleh-Nya. Siapakah yang dapat menjamin itu semua?</p>
<p>Para pendahulu kita yang shalih, yaitu para sahabat Nabi, tabi&#8217;in dan tabi&#8217;ut tabi&#8217;in, dengan segala kebaikan yang mereka miliki, mulai dari ibadah, amal kebajikan, zuhudnya, dan mereka tahu bahwa Allah Maha Luas ampunan dan Rahmat-Nya, namun mereka masih dihinggapi rasa takut akan tertolaknya amalan yang mereka kerjakan. Lihatlah gambaran Al-Qur&#8217;an tentang mereka:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَا آَتَوْا وَقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُوْنَ (60)</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.”</em> (QS. Al-Mu&#8217;minun: 60)</p>
<p>‘Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em> pernah bertanya kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tentang ayat tersebut. Maka Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">لاَ يَا بِنْتَ الصِّدِّيْقِ،</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وَلَكِنَّهُمُ الَّذِيْنَ يَصُوْمُوْنَ وَيُصَلُّوْنَ وَيَتَصَدَّقُوْنَ وَهُمْ يَخَافُوْنَ أَنْ لاَ يُقْبَلَ مِنْهُمْ</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">أُولَئِكَ الَّذِيْنَ يُسَارِعُوْنَ فِي الْخَيْرَاتِ.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Tidak wahai puteri ash-Shiddiq, tapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa, melaksanakan shalat, bershadaqah, sedangkan mereka merasa khawatir amalan-amalan itu tidak diterima. Mereka itu adalah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan.”</em> (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 3175 dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Shohiih Sunan at-Tirmidzi, no. 2537)</p>
<p>Mereka adalah orang yang bersegera dalam kebaikan dan melaksanakan ibadah dengan sebaik-baiknya. Meskipun demikian, mereka senantiasa merasa takut amalan mereka tidak diterima. Allah menyanjung mereka dengan sebaik-baik sanjungan dan mensifati mereka dengan sifat yang paling baik.</p>
<p>Rahasianya, mereka bukanlah khawatir karena Allah tidak akan memberikan pahala kepada mereka. Sekali-kali tidak demikian, karena Allah tidak akan pernah mengingkari janji-Nya. Akan tetapi mereka merasa takut belum melaksanakan amalan-amalan itu sesuai dengan syarat-syarat ibadah yang diperintahkan oleh Allah <em>Ta’ala</em>. Mereka tidak bisa memastikan bahwa mereka telah melaksanakannya sesuai dengan yang Allah inginkan.</p>
<p>Para Sahabat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga merasa khawatir amalan mereka batal tanpa disadari. Ini merupakan tanda kesempurnaan iman. Sebab Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُوْنَ (99)</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“&#8230; Tidaklah yang merasa aman dari adzab Allah, kecuali orang-orang yang merugi.”</em> (QS. Al-A&#8217;raaf: 99)</p>
<p>Sangatlah banyak kisah-kisah shohih yang menceritakan keikhlasan dan rasa takut mereka kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em>.</p>
<p><strong>Permisalan Tentang Amalan Manusia</strong></p>
<p>Allah <em>Ta&#8217;ala</em> memberikan permisalan tentang amalan manusia dengan firman-Nya:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">أَيَوَدُّ أَحَدُكُمْ أَنْ تَكُوْنَ لَهُ جَنَّةٌ مِنْ نَخِيْلٍ وَأَعْنَابٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">لَهُ فِيْهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَأَصَابَهُ الْكِبَرُ وَلَهُ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَاءُ</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">فَأَصَابَهَا إِعْصَارٌ فِيْهِ نَارٌ فَاحْتَرَقَتْ</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمُ الآَيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَ (266)</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya.”</em> (QS. Al-Baqarah: 266).</p>
<p>Ketika menjelaskan ayat di atas, Ibnu &#8216;Abbas <em>radhiyallahu &#8216;anhuma</em> memberikan permisalan tentang seorang kaya yang beramal dengan ketaatan kepada Allah, kemudian Allah mengutus syaithon kepadanya sehingga orang itu berbuat banyak maksiat sehingga semua amalnya terhapus. (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 4538. Lihat <em>Tafsir Ibnu Katsir</em>, I/280).</p>
<p>Hadits ini memberikan penjelasan kepada kita tentang orang yang pada permulaan hidupnya banyak beramal kebaikan, lalu setelah itu jalan hidupnya berbalik. Dia mengganti kebaikan dengan kejahatan- <em>semoga Allah melindungi kita semua dari hal itu</em>- sehingga amal kebaikannya di permulaan menjadi terhapus. Amat menyesal sekali manusia seperti ini.</p>
<p>Di saat-saat tua dimana ia sangat membutuhkan sesuatu namun seluruh modalnya menjadi lenyap dan tiada lagi bermanfaat. Adakah keadaan  yang lebih parah dari pada ini?</p>
<p>Di akhir ayat ini, Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمُ الآَيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَ (266)</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya.”</em> (QS. Al-Baqarah: 266). Dikarenakan tidaklah kita dapat memahami perumpamaan yang Allah buat dalam Al-Qur&#8217;an melainkan dengan cara memikirkan makna yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">وَتِلْكَ الأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلاَّ الْعَالِمُوْنَ (43)</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”</em> (QS. Al-Ankabuut: 43).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber : Buletin at-Taubah edisi ke-68</p>
<p>www.attaubah.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://attaubah.com/sebab-sebab-terhapusnya-amal-sholih.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Kencing, Perlukah Menjawab Salam?</title>
		<link>http://attaubah.com/ketika-kencing-perlukah-menjawab-salam.html</link>
		<comments>http://attaubah.com/ketika-kencing-perlukah-menjawab-salam.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Apr 2012 16:06:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[buang air kecil]]></category>
		<category><![CDATA[kencing]]></category>
		<category><![CDATA[salam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://attaubah.com/?p=681</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji hanya bagi Allah]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Segala puji hanya bagi Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala. </em>Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </em>para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari Kiamat.</p>
<p><strong>Pertanyaan :</strong></p>
<p>Ketika kita sedang berada dalam kondisi buang hajat, tiba-tiba ada yang memberi salam. Apakah kita perlu membalasnya?</p>
<p><strong>Jawab :</strong></p>
<p>Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar<em> radhiyallahu ‘anhuma, </em>ia bercerita,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">أَنَّ رَجُلاً مَرَّ وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبُوْلُ،</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">فَسَلَّمَ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Seorang laki-laki berpapasan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau dengan buang air kecil. Ia pun memberi salam kepada Nabi, namun beliau tidak membalasnya.” </em>(Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Msulim, no. 370).<span id="more-681"></span><em> </em></p>
<p>Abu Dawud meriwayatkan di dalam kitabnya, <em>Sunan Abi Dawud, </em>no. 13</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">عَنْ الْمُهَاجِرِ بْنِ قُنْفُذٍ أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَبُوْلُ،</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ حَتَّى تَوَضَّأَ ثُمَّ اعْتَذَرَ إِلَيْهِ،</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">فَقَالَ: إِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ عَلَى طُهْرٍ- أَوْ قَالَ: عَلَى طَهَارَةٍ</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Dari al-Muhajir bin Qunfudz radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya dia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedang buang air kecil. Ia mengucapkan salam kepada Rasulullah, namun beliau tidak menjawab salamnya, hingga beliau berwudhu’ lalu beliau mengemukakan alasan kepadanya, seraya bersabda: “Sesungguhnya aku tidak suka menyebt nama Allah ‘Azza wa Jalla melainkan dalam keadaan suci.” </em>(Diriwayatkan oleh Abu Dawud<em>, </em>no. 13 dan dinilai shohih oleh al-Albani dalam <em>ash-Shohiihah, </em>no. 834)</p>
<p>Jadi, perlukah kita menjawab salam saat buang air kecil? Hadits di atas menunjukkan bahwa yang dicontohkan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>adalah tidak menjawab salam ketika sedang buang air kecil maupun besar.</p>
<p><a title="www.attaubah.com" href="http://attaubah.com" target="_blank">www.attaubah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://attaubah.com/ketika-kencing-perlukah-menjawab-salam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Kencing Sambil Berdiri?</title>
		<link>http://attaubah.com/bolehkah-kencing-sambil-berdiri.html</link>
		<comments>http://attaubah.com/bolehkah-kencing-sambil-berdiri.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2012 16:49:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[berdiri]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[kencing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://attaubah.com/?p=676</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji hanya bagi Allah]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Segala puji hanya bagi Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala. </em>Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </em>para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari Kiamat.</p>
<p>An-Nasa’i <em>rahimahullah </em>menyebutkan di dalam kitabnya, <em>Sunan an-Nasa’i, </em>hadits dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha, </em>bahwasanya ia bercerita:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">مَنْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَالَ قَائِمًا</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">فَلاَ تُصَدِّقُوْهُ، مَا كَانَ يَبُوْلُ إِلاَّ جَالِسًا</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Siapa saja yang bercerita kepada kalian bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam buang air kecil sambil berdiri, maka janganlah percaya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah ang air, kecuali dalam posisi duduk (jongkok).” </em>(Diriwayatkan oleh an-Nasa’i, no. 29 dan dishohihkan oleh al-Albani dalam <em>Silsilah ash-Shohiihah, </em>no. 201)<span id="more-676"></span></p>
<p>Apa yang diriwayatkan dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha </em>ini adalah<em> nafi </em>(menafikan perbuatan itu), dan ia mengatakan demikian berdasarkan pengetahuannya.</p>
<p>Adapaun hadits yang diriwayatkan oleh Hudzaifah <em>radhiyallahu ‘anhu </em>adalah sebaliknya, yaitu <em>itsbat </em>(menetapkan adanya perbuatan itu) dan ia telah menegaskan apa yang diketahuinya.</p>
<p>Hudzaifah <em>radhiyallahu ‘anhu </em>mengatakan,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">أَتَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُبَاطَةَ قَوْمٍ فَبَالَ قَائِمًا</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi Subath (tempat buang sampah) suatu kaum, lalu beliau buang air kecil sambil berdiri.” </em>(Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 226)</p>
<p>Pada permasalahan seperti ini, <em>itsbat </em>harus didahulukan dari <em>nafi. </em>Sebab, orang yang mengetahui lebih dapat diterima dari pada orang yang tidak mengetahui. Ucapan Hudzaifah <em>radhiyallahu ‘anhu </em>harus didahulukan dan dijadikan acuan dalam masalah ini.</p>
<p>Al-Hafidz <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Diriwayatkan secara shohih dari ‘Umar, ‘Ali, Zaid bin Tsabit dan selainnya, bahwasanya mereka buang air sambil berdiri. Yang demikian itu menunjukkan bahwa perbuatan ini boleh dilakukan tanpa adanya kemakruhan di dalamnya jika aman dari percikannya. <em>Wallahu a’lam. </em>(<em>Fat-hul Baari, </em>I/330)</p>
<p>Selain itu, tidak ada satu pun riwayat yang shohih dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tentang larangan kencing sambil berdiri. Adapun hadits tentang larangan kencing sambil berdiri yakni hadits yang bunyinya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">يَا عُمَرُ لاَ تَبُلْ قَائِمًا</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Hai ‘Umar, janganlah kamu buang air kecil sambil berdiri.” </em></p>
<p>adalah hadits dho’if. Hadits ini diriwayatkan oleh ‘Abdurrozzaq, no. 15924; Ibnu Majah, no. 308; al-Hakim, no. 661 dan selainnya. Meskipun zhohir sanad hadits ini shohih dan bahkan para perawinya tsiqoh, namun riwayatnya cacat karena <em>‘an’anah</em>, sebagaimana dijelaskan oleh al-Albani dalam <em>adh-Dho’iifah, </em>no. 934)</p>
<p><strong>Kesimpulan </strong></p>
<p>Sebagaimana yang disampaikan oleh al-Hafidz <em>rahimahullah, </em>“Boleh buang air kecil sambil berdiri tanpa dimakruhkan jika aman dari cipratannya.”</p>
<p><a title="www.attaubah.com" href="http://attaubah.com" target="_blank">www.attaubah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://attaubah.com/bolehkah-kencing-sambil-berdiri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Sedang Sholat Sunnah, Tiba-Tiba Iqomah Dikumandangkan</title>
		<link>http://attaubah.com/ketika-sedang-sholat-sunnah-tiba-tiba-iqomah-dikumandangkan.html</link>
		<comments>http://attaubah.com/ketika-sedang-sholat-sunnah-tiba-tiba-iqomah-dikumandangkan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 16:06:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[adzan]]></category>
		<category><![CDATA[iqamah]]></category>
		<category><![CDATA[iqomah]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://attaubah.com/?p=667</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji hanya bagi Allah]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Segala puji hanya bagi Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari Kiamat.</p>
<p>Pembaca yang dirohmati Allah <em>Ta&#8217;ala, s</em>ering kali seorang Muslim mengerjakan sholat sunnah Rowatib atau sholat Tahiyatul Masjid sebelum sholat berjama’ah dimulai. Namun tiba-tiba muadzin mengumandangkan iqomah. Apakah yang harus ia lakukan? Melanjutkan sholat sunnahnya hingga salam ataukah segera memutus sholat sunnahnya dan mengikuti sholat wajib? Berikut ini sebagian hadits yang berkaitan dengan masalah ini dan juga jawaban untuk pertanyaan di atas. Semoga bermanfaat.<span id="more-667"></span></p>
<p>Diriwayatkan dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu, </em>dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </em>beliau bersabda:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">إِذَا أُقِيْمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ صَلاَةَ إِلاَّ الْمَكْتُوْبَةُ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“Jika iqomat sholat telah dikumandangkan, maka tidak ada sholat selain sholat wajib.” </em>(Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 710)</p>
<p>Diriwayatkan dari Ibnu Buhainah <em>radhiyallahu ‘anhu, </em>ia bercerita,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">أُقِيْمَتْ صَلاَةُ الصُّبْحِ،</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">فَرَأَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلاً يُصَلِّي وَالْمُؤَذِّنُ يُقِيْمُ،</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">فَقَالَ: أَتُصَلِّي الصُّبْحَ أَرْبَعًا</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“Iqomat sholat Shubuh telah dikumandangkan, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki sedang mengerjakan sholat sementara muadzin mengumandangkan iqomah. Maka beliau berkata, “Apakah kamu akan mengerjakan sholat Shubuh empat rokaat?” </em>(Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 663 dan Muslim, no. 711. Lafadz di atas adalah lafadz Muslim)</p>
<p>Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Sarjis, ia bercerita,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">دَخَلَ رَجُلٌ الْمَسْجِدَ وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ،</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ فِيْ جَانِبِ الْمَسْجِدِ،</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">ثُمَّ دَخَلَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">فَلَمَّا سَلَّمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: يَا فُلاَنُ بِأَيِّ الصَّلاَتَيْنِ اعْتَدَدْتَ؟</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">أَبِصَلاَتِكَ وَحْدَكَ أَمْ بِصَلاَتِكَ مَعَنَا؟</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“Seorang laki-laki masuk ke dalam masjid sementara Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam sedang mengerjakan sholat Shubuh. Lalu ia sholat dua rokaat di samping (serambi) masjid, kemudian ikut sholat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika selesai mengerjakan sholat, Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda: “Wahai Fulan, sholat manakah yang kamu inginkan? Sholat sendiri atau sholat bersama kami?” </em></p>
<p><strong>Apakah ini berarti ketika mendengarkan iqomah, kita harus langsung memutus sholat sunnah kita?</strong></p>
<p>Syaikh Husain bin Audah al-Awaisyah <em>hafizhahullah</em> mengatakan bahwa hal ini tidak berarti setiap orang yang sedang mengerjakan sholat harus memutus sholatnya ketika mendengar iqomah. Karena hal ini berbeda antara imam yang satu dengan imam yang lainnya, antara orang yang satu dengan orang yang lainnya.</p>
<p>Mungkin saja, seseorang berada dalam suatu keadaan yang jika ia melanjutkan sholat sunnahnya sampai selesai, ia tetap akan mendapati <em>takbirotul ihrom </em>untuk sholat wajibnya, sehingga ia tidak perlu memutus sholat sunnahnya. Atau bisa pula ketika itu ia berada pada pertengahan sholatnya, namun ia yakin bahwa imamnya akan menunggunya sambil meluruskan shof dan menutup celah. Pada konsisi ini, dianjurkan baginya untuk menyempurnakan sholat sunnahnya dengan mempercepatnya dan tidak merusaknya.</p>
<p>Maka dalam kondisi ini dan kondisi itu, tidak perlu memutus sholatnya. Adapun jika orang yang sedang mengerjakan sholat itu memperkirakan bahwa ia akan terluput dari <em>takbirotul ikrom </em>karena ia baru saja memulai sholat sunnahnya, atau karena imamnya terburu-buru memulai takbir tanpa merapikan shof, maka ia harus bergegas mengikuti sholat wajib dan meninggalkan sholat sunnahnya.</p>
<p>Syaikh Husain bin Audah al-Awaisyah <em>hafizhahullah</em> mengatakan, “Demikianlah penjelasan yang saya dengar dari guru kami, al-Albani <em>rahimahullah</em>.” (Eksiklopedi Fiqih Praktis, penerbit: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, hal. 306)</p>
<p><a title="www.attaubah.com" href="http://attaubah.com" target="_blank">www.attaubah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://attaubah.com/ketika-sedang-sholat-sunnah-tiba-tiba-iqomah-dikumandangkan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anjuran Sholat Dua Raka&#8217;at Sesudah Wudhu</title>
		<link>http://attaubah.com/anjuran-sholat-dua-rakaat-sesudah-wudhu.html</link>
		<comments>http://attaubah.com/anjuran-sholat-dua-rakaat-sesudah-wudhu.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Apr 2012 14:07:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafs]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[wudhu']]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://attaubah.com/?p=664</guid>
		<description><![CDATA[An-Nawawi rahimahullah menyebutkan di dalam]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>An-Nawawi <em>rahimahullah </em>menyebutkan di dalam kitabnya, <em>Riyaadhush Shaalihiin, </em>pada bab 209 tentang Anjuran Sholat Dua Raka’at Sesudah Wudhu, hadits no. 1146.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ &#8211; رَضِيَ اللهُ عَنْهُ،</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلاَلٍ عِنْدَ صَلاَةِ الْفَجْرِ:</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">يَا بِلاَلُ، حَدِّثْنِيْ بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الإِسْلاَمِ،</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ،</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">قَالَ: مَا عَمِلْتُ عَمَلاً أَرْجَى عِنْدِي</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُوْرًا فِيْ سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ</p>
<p style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 26px; text-align: center;" dir="RTL">إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُوْرِ مَا كُتِبَ لِيْ أَنْ أُصَلِّيَ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Diriwayatkan dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu anhu</em>, bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pernah bersabda kepada Bilal<em> </em><em>ketika sholat Fajar,</em><em> “Wahai Bilal, ceritakan kepadaku tentang amalan yang paling engkau harapkan pahalanya sejak engkau memeluk Islam! </em><em>Sesungguhnya aku mendengarkan bunyi kedua sandalmu di depanku di dalam surga”. Bilal menjawab, “Aku tidaklah mengerjakan suatu amal yang paling aku harapkan pahalanya, selain dari pada setiap kali bersuci, baik di waktu malam atau siang, aku selalu mengerjakan sholat semampu saya.”</em>  (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhori, no. 1149 dan Muslim, no. 6274).<span id="more-664"></span></p>
<p>Berikut ini berapa faidah dari hadits di atas, yang disampaikan oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al Hilali <em>hafizhahullah </em>dalam kitab <em>Bahjatun Naazhiriin Syarh Riyaadhish Shaalihiin.</em></p>
<ol start="1">
<li>Amal yang dilakukan secara sembunyi lebih utama dari pada dilakukan secara terang-terangan.</li>
<li>Anjuran mengerjakan sholat setelah berwudhu’, agar wudhunya tidak terlepas dari tujuan yang dimaksudkan.</li>
<li>Allah memperbesar pahala sebagai imbalan amal perbuatan yang disenangi hamba-Nya.</li>
<li>Orang-orang sholih boleh ditanya tentang amal sholih yang dianugerahkan kepada mereka, untuk diikuti orang lain.</li>
<li>Hadits ini mengajarkan agar guru menanyakan amal perbuatan murid untuk memberi motivasi dan semangat jika amal perbuatan itu baik. Jika tidak maka dia dapat mencegahnya.</li>
<li>Hadits ini menjelaskan salah satu keutamaan Bilal <em>radhiyallahu ‘anhu.</em></li>
<li>Dianjuran kita tetap dalam keadaan suci, agar dapat mendapatkan imbalan masuk Surga. Sebab, orang yang selalu dalam keadaan suci, sepanjang malam pun ia tidur dala keadaan suci. Barangsiapa sepanjang malam dalam keadaan suci, maka ia tetap dalam keadaan lebih baik.</li>
<li>Masuk Surga itu karena rahmat Allah. Dan ukuran derajat itu berdasarkan amal perbuatan.</li>
<li>Surga dan Neraka, keduanya adalah makhluk Allah yang sudah ada sekarang.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://attaubah.com/anjuran-sholat-dua-rakaat-sesudah-wudhu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
